Rabu, 14 Mei 2008

PEMAHAMAN DAN PENYERAGAMAN LITURGI (TATA IBADAH) GKPA

PEMAHAMAN DAN PENYERAGAMAN

LITURGI (TATA IBADAH) GKPA

UNTUK GKPA DISTRIK IV[1]

Pdt.David Ben Gurion Hutagalung,SmTh[2]

I. PENGERTIAN

Liturgi pada awalnya berarti kewajiban bekerja yang ditentukan oleh negara (Romawi). Untuk menyelesaikan suatu bangunan, program-program khusus untuk kepentingan negara, selain mengutip pajak, negara juga memutuskan kewajiban rakyat/masyarakat bekerja selama beberapa hari/waktu.

Tidak jelas kapan dimulai tetapi setelah perkembangan kemudian istilah itu dipakai oleh gereja dengan pemahaman baru ”kewajiban beribadah“ kepada Tuhan (Gereja). Pengertian sekarang liturgi menjadi susunan pelaksanaan ritus-ritus keagamaan atau tata ibadah.

Dalam gereja mula-mula tidak ada liturgi atau tata ibadah yang baku. Namun dalam setiap ibadah pasti diisi dengan nyanyian (Mazmur), doa dan pemberitaan Firman kemudian diakhiri dengan perjamuan. Para Bapa-bapa Gereja kemudian menata ibadah sesuai dengan perkembangan pemahaman mereka tentang iman Kristen, ajaran/dogma. Kemudian liturgi tidak lagi dibentuk oleh liturgos tetapi liturgos menjalankan liturgi yang sudah baku. Liturgi tidak lagi sesuka hatinya memilih nyanyian, mengucapkan doa dan membaca surat kiriman (Alkitab) yang selanjutnya setelah gereja mulai mapan Alkitab, Kidung Rohani, rumusan Iman, rumusan doa menjadi bagian dari ketetapan kosili dan akhirnya demikian juga dengan liturgi.

II. LITURGI DAN DOGMA

Meskipun "manjae" dari HKBP, kita harus nyatakan bahwa GKPA adalah buah dari gerakan Reformasi Martin Luther. Sehingga ajarannya tentang sola gratia, sola fide, sola scriptura juga menjadi dasar ajaran GKPA. Ajaran ini tentu saja harus menjadi pedoman dasar dari liturgi atau tata ibadah GKPA.

Inti Ajaran Martin Luther

Luther menolak pandangan yang mengatakan bahwa dengan pertolongan sakramen-sakramen yang dilakukan oleh gereja dan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik (amal) yang diperintahkan oleh gereja, manusia dapat menjadikan dirinya layak untuk menerima keselamatan.

Menurut Luther, manusia adalah orang berdosa yang hanya melawan Allah. Oleh sebab itu keselamatan manusia adalah semata-mata kasih karunia Allah (soa gratia: hanya oleh kasih karunia saja manusia diselamatkan), sedangkan manusia tidak dapat bebuat apa-apa selain percaya (sola fide: hanya oleh iman saja) untuk mendapat bagian dalam keselamatan. Luther juga menolak pendapat bahwa gereja berhak menentukan tafsiran Alkitab yang benar, dengan mengukur tafsiran menurut tradisi gereja (yang terdiri atas keputusan-keputusan konsili-konsili dan paus-paus, tulisan-tulisan para teolog dari gereja kuno yang disebut bapak-bapak Gereja). Bukan tradisi yang mengukur Alkitab, tetapi Alkitab mengukur tradisi dan segala sesuatu yang dikatakan dan dibuat oleh gereja. Alkitab adalah ukuran iman yang satu-satunya dan mutlak (sola scriptura: hanya Alkitab saja sebagai ukuran iman).

Kalau kita mengikuti ibadah dalam gereja Protestan (Lutheran) yang menekankan kekhidmatan termasuk GKPA, itu adalah dampak dari ajaran ’manusia adalah orang berdosa yang hanya melawan Allah’. Karenanya, ibadah kita adalah ibadah orang berdosa. Para pelayan juga adalah orang berdosa yang tidak sempurna (‘ulaula na matolpang’).

III. LITURGI ATAU AGENDA / TATA IBADAH GKPA

Liturgi atau Agenda GKPA dibagi dalam dua bagian yaitu:

1. Tata Ibadah Minggu dan Pesta Gerejawi

Pdt.Melanthon Pakpahan (Ephorus HKBP Angkola - GKPA I) semasa bertugas di HKBP Bandung memberikan penjelasan yang menyeluruh tentang Agenda/ liturgi Ibadah Minggu HKBP yang juga menjadi liturgi/agenda Minggu HKBP Angkola sesuai dengan urutan-urutannya. Pemahaman itu sampai sekarang juga masih menjadi dasar pemahaman kita tentang liturgi/ibadah Minggu dan Pesta Gerejawi.

Sebelum memulai Ibadah Minggu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mempersiapkan diri mengikuti ibadah Minggu yaitu:

(a) Ketika memasuki gereja untuk mengikuti ibadah, hendaknya langsung mengambil tempat duduk dan berdoa.

(b) Setelah berdoa, kiranya tidak lagi ke sana – ke mari

(c) Kalau ibadah belum dimulai, setelah berdoa adalah lebih baik membaca Alkitab dengan hati yang tentram

(d) Jangan sampai seperti ributnya orang dipasar terjadi di dalam gereja sebelum kebaktian dimulai

(e) Di dalam gereja yang teratur dan tertib meskipun sudah banyak orang di dalam gereja, suasana akan tetap tentram dan hening

(f) Jangalah dilakukan rapat di konsistori menjelang ibadah akan dimulai. Hal seperti itu sering kali merusak suasana dan jiwa ibadah Minggu.

A. IBADAH MINGGU

Ibadah Minggu dimulai dengan nyanyian pembukaan. Biasanya ini tiga ayat, atau nyanyian yang agak panjang untuk memberi kesempatan kepada umat agar semua sama-sama memulai ibadah.

Kita mengetahui bahwa umat datang ke gereja untuk bertemu dengan Tuhan. Masing-masing meninggalkan rumahnya untuk masuk ke rumah Tuhan. Setiap orang harus diingatkan bahwa dia masuk dan duduk di rumah Tuhan. Di dalam kebersamaan itu pasti ada juga yang mempunyai pergumulan khusus yang boleh dia sampaikan begitu duduk di dalam rumah Tuhan. Di dalam kebersamaan itu perlu sekali ditegaskan ungkapan dan pemahaman ini. ”Engakulah yang kutemui di dalam rumahMu ini, ya Bapaku dan Allahku!“ Rumahku ku tinggalkan, demikian juga pekerjaanku sehari-hari. Aku mengucap syukur kepadaMu karena Engkau telah menyertai dan melindungiku selama enam hari yang lewat. Sekarang aku datang menemui Tuhan agar Tuhan menyapa dan memberi berkat untuk kehidupanku. Untuk menopang suasana ini kita tentu harus memilih nyanyian yang tepat. Juga harus kita ingat kalender gerejawi yang menentukan nama-nama Minggu.

B. VOTUM

"Di dalam nama Allah Bapa, AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus...“ Setelah kita menyapa Tuhan dengan doa dan nyanyian maka ada jawaban. Di dalam namaKu, persekutuan/parlagutan ini, Ibadah Minggu ini dijelaskan. Kita diajak berdiri untuk menyambut jawaban Tuhan. Selanjutnya Tuhan berbicara lewat Firman. Kita jawab dengan nyanyian Haleluya, Haleluya, Haleluya. Kemudian kita menyampaikan doa permohonan. Perlu kita pahami bersama tentang makna "Di dalam Nama Allah Bapa ...“ Ibadah Minggu dimulai:

(a) Ketika umat masuk dan memulai ibadah bukan lagi keinginan manusia yang terlaksana tetapi keinginan dan kemauan Tuhan.

(b) Ibadah Minggu itu tidak hanya dihadiri oleh banyak orang tetapi di situ juga Tuhan hadir. Harus diingat bahwa Tuhan bukan tambahan. Tetapi Dialah yang membungkus umat (pargomgom). Karenanya harus diingat bahwa persekutuan itu bukan kumpulan biasa, tidak sama dengan kumpulan perayaan di GOR, tanah lapang, mal, dll. Ibadah Minggu adalah persekutuan yang kudus sebab Allah hadir di dalamnya.

(c) Tidak wajar lagi kalau ada umat yang pikirannya melayang-layang, berbisik-bisik, ngemil permen, ngantuk, melirik ke sana ke mari, bermalas-malasan. Diajak berdiri untuk berdoa pura-pura tidak tahu atau menganggap sepele. Harus kita ingat bahwa di dalam nama Tuhan kita duduk, di dalam nama Tuhan berdiri, di dalam nama Tuhan berdiam diri mendengar, di dalam nama Tuhan semuanya kita ikuti. Masuk akalkah kalau seseorang di dalam nama Tuhan berbisik-bisik, melirik ke sana-ke mari?

Dengan pemahaman seperti ini umat sebenarnya diajak untuk menyatakan dalam hati, setelah liturgos mengucapkan: "Di dalam nama Bapa...“ ”Benar Tuhan dengan segala kerendahan hati aku memohon kehendakMulah yang terjadi“.

Kemudian Tuhan berbicara menjawab kerinduan kita. Liturgos akan membacakan Firman Tuhan sesuai dengan kalender gerejawi. Begitu berharganya sapaan Tuhan lewat firmanNya. Karenanya begitu liturgos mengucapkan Haleluya, maka dengan bersemangat jemaat akan menyambutnya dengan: Haleluya, Haleluya, Haleluya (Puji Tuhan, Puji Tuhan, Puji Tuhan). Setelah kita sambut perkataan Tuhan dengan Haleluya, maka kita menyampaikan doa yang disuarakan oleh liturgos dan tentu saja kita mengucapkannya di dalam hati kita masing-masing.

Demikianlah ibadah Minggu kita dibuka dan dimulai sesuai dengan agenda GKPA. Karenanya ketika ada jemaat yang mengatakan bahwa tata ibadah kita tidak menarik, liturgi kita ketinggalan zaman, tidak sesuai lagi dengan minat orang muda sekarang, kita perlu bertanya, ”Apa yang mereka pahami dengan ibadah?“ Ibadah yang jelas dimulai dengan nama Allah Bapa, AnakNya Tuhan Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus dianggap tidak menarik, sementara ibadah yang tidak jelas pembukaannya (nyanyian dan doa pembawa acara yang membukanya) dianggap menarik, itu hanya soal emosi dan perasaan.

2. Tata Ibadah Acara-Acara Khusus

(1) Sakramen

Gereja Reformasi mengakui hanya dua sakramen, yaitu Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus. Baptisan Kudus dilaksanakan dengan baptisan percik untuk anak-anak dan dewasa. Baptisan anak-anak kemudian akan dilanjutkan dengan sidi. Sementara baptisan dewasa sudah sekaligus dengan sidi. Perjamuan kudus dilaksanakan dengan pemahaman intranssubstansiasi (kehadiran nyata). Kristus nyata hadir dalam Perjamuan, meskipun roti dan anggur tidak berubah. Peserta Perjamuan Kudus meminum anggur dari cawan yang sama dengan pemahaman cawan yang Yesus pakai dari situlah umat meminum anggur/darah Yesus. Kedua sakramen ini hanya boleh dilayani oleh pendeta/imam. Kecuali untuk baptisan darurat, boleh dilayani oleh penatua/sintua atau jemaat dewasa namun jika yang menerimanya ternyata tidak meninggal akan dibawa kemudian ke gereja untuk menerima berkat dari pendeta dalam acara kebaktian Baptisan Kudus.

(2) Ibadah khusus yang lain

Ibadah khsusus yang lain meskipun dilakukan hanya sekali seumur hidup, misalnya tahbisan pendeta, guru, sintua dan lain-lain, bukan merupakan sakramen. Demikian juga upacara penguburan dan pemberkatan nikah.

IV. KESERAGAMAN PELAYAN DALAM IBADAH

1. Jubah Pendeta

Dalam penahbisannya menjadi pendeta sekaligus diberikan jubah tahbisan. Artinya jubah itu sekaligus menjadi jubah tahbisan (toga tohonan) bukan hanya jubah pelayanan. Jubah ini berwarna hitam dan dasi putih. Selain itu pendeta juga memiliki jubah mini (toga mini). Disepakati bersama dalam rapat pendeta: (a) Jika memakai jubah (toga) mini dalam menutup ibadah untuk menyampaikan berkat dengan mengangkat satu tangan. (b) Jika memakai jubah panjang (toga besar), mengangkat dua tangan; (c) jika tidak memakai jubah tidak mengangkat tangan.

2. Rumusan Berkat

Menutup ibadah: Dipasupasu jana dijagahon Tuhan Debata ma ho (hita); disondanghon Tuhan Debata ma bohiNa tu ho (hita), jana asi ma rohaNa tu ho (hita); diadophon Tuhan Debata ma bohiNa tu ho (hita) jana dipasaorhon Debata ma dameNa tu tondimu (tondinta). Amen.

Tuhan memberkati dan melindungi engkau (kita); Tuhan menyinari engkau (kita) dengan wajahNya dan memberi engkau (kita) kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajahNya kepadamu (kita) dan memberi engkau (kita) damai sejahtera. Amin!

Didongani asi ni roha ni Tuhanta Jesus Kristus dohot holong ni roha ni Debata Ama dohot pardonganan ni Tondi Parbadia ma hamu (hita) sudena olat ni on ro di salolot ni lolotna. Amen!

Anugerah Tuhan Yesus Kristus, Kasih setia Allah Bapa, serta Persekutuan Roh Kudus, kiranya menyertai saudara/i (kita) sekalian sekarang dan sampai selama-lamanya! Amin!.

Jika pendeta mengucapkan rumusan berkat ini tidak boleh memakai kata kita (hita), sebab inilah yang membedakan tahbisan pendeta dengan penatua/sintua.

3. Ucapan Salam Khotbah

Dame na sumurung sian salutna roha i ma na manjagahon ateate dohot pikiranmunu dibagasan Kristus Jesus Tuhanta i. Amen!

Damai sejahtera yang melampaui segala akal kiranya memelihara hati dan pikiranmu, dalam Kristus Yesus Tuhan kita. Amin! (Ucapan ini biasanya dilaksanakan dengan mengangkat kedua tangan).

4. Penggunaan ucapan berkat dan salam

Dalam menutup ibadah baik ibadah Minggu/Pesta maupun ibadah khusus, hanya yang telah ditahbiskan menjadi pelayan yang boleh mengucapkan berkat tersebut. Vikar (calon pendeta) sekalipun tidak boleh mengucapkan kalimat tersebut.

Salam khotbah (epikalipse) hanya boleh diucapkan oleh pendeta ketika dia akan mengucapkan khotbah (ketika memakai baju toga). Satu hal yang sering dilupakan oleh pendeta ketika akan menyampaikan khotbah ialah doa epikalipse ini, sehingga pendeta sering berdoa dalam membuka khotbah. Pada hal itu bukanlah doa melainkan epikalipse. Yang paling parahnya lagi kalau rumusan ini dicampur-campur. Setengah doa permohonan dan diakhiri dengan epikalipse. Apalagi yang terparah jika disampaikan dalam bermacam-macam bahasa, dimulai dengan bahasa Indonesia dan epikalipsenya dengan bahasa Batak. Surat kiriman para rasul yang senantiasa dimulai dengan epikalipse itulah kita warisi dan teruskan sejak dari gereja mula-mula hingga kini. Sehingga setiap kali hendak menyampaikan khotbah salam berkat inilah yang kita pakai. Jangan sampai pemahaman gereja-gereja sektarian yang tidak memelihara warisan gereja dan para Rasul mempengaruhi gereja arus utama (main stream). Doa epikalipse ini bukan supaya enak di dengar, atau hanya mengikuti trend sehingga kita terjebak di dalamnya.

5. Pemberangkatan jenazah pelayan gerejawi

Jika seorang pelayan gerejawi (sudah ditahbiskan) meninggal dunia, maka sesama pelayan dalam tahbisan yang sama, jika jenazah tersebut dibawa ke gereja, akan menerimanya di pintu gereja dan membawa jenazah tersebut ke dalam gereja. Dalam rangkaian acara ibadah sebelum peti jenazah ditutup, para pelayan dalam tahbisan yang sama akan berdiri di sekeliling peti jenazah mengucapkan firman Tuhan sebagai ucapan pemberangkatan. Kemudian merekalah yang menghantar peti jenazah dari gereja untuk diterima keluarga di luar pintu gereja. Dalam kaitan ini harus kita bedakan tahbisan/tohonan pelayanan dengan keanggotaan Majelis.

6. Penumpangan tangan

Doa dengan penumpangan tangan dan berkat dengan mengangkat tangan hanya boleh dilakukan oleh pendeta. Dalam hal penumpangan tangan untuk memberkati dilaksanakan pada acara: Baptisan, Sidi, Pernikahan, Penahbisan. Karena itu janganlah kita mudah tergoda untuk menumpangkan tangan dengan sembarangan.

7. Doa syafaat (tangiang pangondianon)

Tidak setiap doa dengan pokok-pokok doa khusus disebut dengan doa syafaat. Dalam Alkitab banyak bahasan mengenai doa syafaat. Yang paling jelas mengenai doa ini terdapat dalam Kej.48:22-33, syafaat Abraham tentang Sodom dan Gomora, kemudian Kel.32:10-14, Musa melunakkan hati Tuhan dan Luk.23:34, Tuhan Yesus memohon pengampunan kepada orang banyak. Doa syafaat kelihatannya disampaikan oleh seseorang yang mempunyai kedudukan istimewa di hadapan Tuhan.



Jakarta, 14 April 2007



[1] Disampaikan pada Penataran Sintua/Calon Sintua/Majelis GKPA Se-Distrik IV pada hari Sabtu, 14 April 2007 di GKPA Penjernihan

[2] Praeses GKPA Distrik IV: Jawa-Sumbagsel

Tidak ada komentar: